Perkataan Tuhan melalui hamba-Nya—Musa—pada kitab ini ditujukan kepada generasi kedua bangsa Israel yang keluar dari perbudakan di Mesir. Generasi pertama bangsa Israel yang tidak taat tidak diperkenankan Tuhan untuk memasuki Tanah Perjanjian, yaitu Tanah Kanaan. Sebelum generasi kedua memasuki Tanah Perjanjian, Allah lebih dahulu mengingatkan agar mereka sungguh-sungguh berusaha hidup taat kepada Tuhan supaya mereka dapat menikmati segala berkat yang Tuhan sediakan di Tanah Perjanjian.
Meskipun generasi pertama telah gagal karena mereka bersungut-sungut dan tidak percaya kepada Tuhan (1:30-36), Tuhan tetap setia dan bersabar kepada bangsa Israel. Ia masih memberi kesempatan kepada mereka karena Ia setia dan Ia mengingat perjanjian yang telah Ia lakukan kepada nenek moyang bangsa Israel, yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub. Perkataan Allah, “Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu…” (1:8a) menunjukkan bahwa Allah telah menyerahkan tanah itu kepada orang Israel 500 tahun sebelumnya, yaitu saat Ia menetapkan perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Perjanjian itulah yang diperbarui dan diperkuat di gunung Horeb (1:6-8). Yang dituntut dari bangsa Israel sebenarnya hanyalah mengambil Tanah Perjanjian itu dengan penuh iman, ketaatan, dan ketekunan.
Kesetiaan Tuhan tidak berakhir meskipun di kemudian hari bangsa Israel kembali gagal menaati dan mengasihi Tuhan. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk datang ke dunia dan menyelamatkan manusia berdosa. Terhadap orang percaya, Roh Kudus diutus untuk menguatkan kita semua sampai kita bertemu dengan-Nya di “kemah abadi” (Ungkapan untuk “surga” dalam Lukas 16:9).
Ratapan 3:22-23
“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”
“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”
sumber: http://saatteduh.wordpress.com/2013/07/01/besar-setia-mu/
