Kisah tentang Abimelekh dalam pasal 9 seperti sebuah sisipan dalam kisah tentang para hakim Israel. Abimelekh bukanlah hakim. Kepemimpinannya dalam masa kepemimpinan para hakim merupakan suatu penyimpangan. Para hakim adalah para pemimpin yang menyelamatkan Israel dari penindasan para penjajah, sedangkan Abimelekh adalah seorang yang menjadi pemimpin bangsa Israel dengan memanfaatkan sentimen nepotisme (memilih keluarga sendiri untuk memegang jabatan pemerintahan) dan dengan membunuh ketujuh puluh saudara tirinya, yaitu anak-anak Gideon atau Yerubaal. Akhir hidupnya pun tragis. Dia berperang melawan warga kota Sikhem—mantan para pendukungnya sendiri—dan dia membunuh warga kota Sikhem dengan cara membakar mereka hidup-hidup. Ketika Abimelekh hendak melakukan hal yang sama terhadap warga kota Tebes, seorang perempuan menimpakan sebuah batu kilangan ke atas kepala Abimelekh, sehingga Abimelekh meminta untuk dibunuh oleh bujang pembawa senjatanya sendiri karena ia merasa malu bila mati di tangan seorang wanita.
Mengembangkan sentimen nepotisme bukanlah cara yang baik untuk memilih seorang pemimpin. Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak jarang bahwa sentimen nepotisme ini mengakibatkan runtuhnya sebuah lembaga, baik lembaga yang bersifat profit (mencari keuntungan) maupun non-profit (misalnya lembaga sosial). Tahun depan, Indonesia akan menyelenggarakan dua buah pemilu, yaitu pemilu untuk memilih anggota DPR serta pemilu untuk memilih presiden. Bila kita salah memilih, mungkin saja yang terpilih adalah seorang seperti Abimelekh, seorang pemimpin yang menyengsarakan kehidupan rakyatnya sendiri.
Hakim-hakim 9:56-57a
“Demikianlah Allah membalaskan kejahatan yang dilakukan oleh Abimelekh kepada ayahnya, yaitu pembunuhan atas ketujuh puluh saudaranya; juga segala kejahatan orang-orang Sikhem ditimpakan kembali oleh Allah kepada kepala mereka sendiri.”
sumber: http://saatteduh.wordpress.com/2013/09/25/akibat-salah-memilih-pemimpin/
“Demikianlah Allah membalaskan kejahatan yang dilakukan oleh Abimelekh kepada ayahnya, yaitu pembunuhan atas ketujuh puluh saudaranya; juga segala kejahatan orang-orang Sikhem ditimpakan kembali oleh Allah kepada kepala mereka sendiri.”
