Bacaan Alkitab Pagi 18 September 2013: Hakim-hakim 16:1-3
Masuk
ke area terlarang, berarti mencobai diri sendiri atau menjatuhkan diri
ke dalam jurang yang dalam. Ada larangan berarti ada bahaya. Anak-anak
biasanya merasa penasaran dengan larangan dan justru mencoba hal yang
dilarang. Namun seorang dewasa mestinya tahu mana yang baik dan mana
yang buruk, serta bijak memilih untuk menjauhkan diri dari apa yang
dilarang.
Simson
tentu tahu bahwa ia adalah bagian dari umat Allah. Ia tentu tahu juga
bahwa secara khusus ia telah ditentukan untuk menjadi nazir. Ia pasti
telah diajari ketentuan-ketentuan yang harus dia patuhi sebagai seorang
nazir, karena seorang nazir harus menjaga kekudusan dirinya secara lebih
khusus. Namun Simson ternyata tidak memedulikan hal itu. Dengan sadar,
ia menerobos area terlarang bagi dirinya selaku seorang umat Allah dan
secara khusus sebagai seorang nazir.
Simson
tampaknya lemah dalam hal wanita dan selalu berada di area yang salah
bila berkaitan dengan wanita. Setelah perkawinannya dengan perempuan
Timna usai, ia tertarik pada seorang perempuan sundal di Gaza (1).
Pergi ke Gaza sendiri sudah salah (tampaknya Gaza merupakan tempat
orang mencari kesenangan dunia pada waktu itu). Apa lagi bila kemudian
Simson tidur dengan wanita tuna susila di sana.
Kelakuan Simson sungguh tidak pantas. Kelemahannya dalam hal kerohanian dan moral sungguh kontras dengan kekuatan fisiknya (3).
Lalu mengapa Tuhan terus memakai Simson padahal ia hidup tidak kudus?
Karena Tuhan telah memilih dia dan masih bersabar untuk memberikan
kesempatan kepada Simson untuk bertobat dan mengalami berkat Allah (bdk. 2Ptr 3:9). Namun meski bersabar, Allah tidak permisif.
Meski
dimasa kini tidak lagi ada nazir, tetapi kita adalah sudah dikuduskan
Allah dan dituntut untuk hidup kudus pula. Dengan pertolongan Roh Kudus,
kita dimampukan untuk mengenali area hidup yang berkenan kepada Allah
dan yang tidak, asal kita mau peka. Menuruti dorongan nafsu dan
keinginan daging akan membuat kepekaan kita menjadi tumpul dan
menjauhkan kita dari kesetiaan kepada Allah.
sumber: http://saatteduh.wordpress.com/2013/09/18/kudus-sesuai-panggilan/
