Manusia terdiri dari dua bagian, yaitu manusia lahiriah dan manusia batiniah (4:16). Manusia lahiriah adalah tubuh fisik yang kelihatan, sedangkan manusia batiniah adalah unsur rohani yang tidak kelihatan. Rasul Paulus menggambarkan tubuh kita saat ini sebagai kemah yang mudah dibongkar, bukan bangunan yang bersifat permanen (5:1-4), artinya tubuh jasmani kita bersifat fana. Tubuh jasmani ini memiliki banyak kekurangan sehingga membuat kita mengeluh (5:2,4). Sekalipun demikian, Rasul Paulus tidak meminta agar Tuhan mengubah tubuh jasmani kita menjadi bangunan permanen, melainkan ia mengungkapkan kerinduannya untuk mengenakan tubuh sorgawi yang permanen. Kerinduannya diulang sampai dua kali (5:2,8) “terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap kepada Tuhan.” Apakah hal itu berarti bahwa kita disuruh untuk mengabaikan (tidak merawat) tubuh lahiriah kita? Tidak! Di bagian lain, Rasul Paulus pun menasihati Timotius agar menjaga pencernaannya (1 Timotius 5:23). Maksudnya adalah agar kita tidak tawar hati dengan keadaan tubuh lahiriah kita—yang semakin merosot dan akhirnya mati—karena masih ada pengharapan di masa depan bahwa tubuh kita yang fana akan diganti dengan tubuh sorgawi yang kekal.
Tidaklah salah jika kita memperhatikan dan merawat tubuh lahiriah kita karena tubuh kita adalah bait Roh Kudus yang sudah selayaknya kita rawat dengan baik. Jangan menghabiskan waktu dan uang untuk mendandani tubuh lahiriah yang akan rusak, merosot, dan akhirnya mati. Sebaliknya, waktu, uang, pemikiran, dan usaha kita seharusnya kita habiskan untuk hal-hal yang bersifat kekal?
2 Korintus 5:1
“Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.”
sumber: http://saatteduh.wordpress.com/2013/10/15/merindukan-tubuh-sorgawi/
“Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.”
