Bacaan Alkitab Pagi 24 Oktober 2013: Yakobus 3:5
===================
"Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun
dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun
kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar"
Semua
orang ingin damai, tapi sedikit yang mempraktekkan. Kekerasan terus
terjadi bahkan yang mengatasnamakan Tuhan dengan tujuan yang mereka
anggap baik. Dengan kata lain, ada orang-orang yang bermimpi untuk
menciptakan perdamaian justru lewat jalan kekerasan. So be it,
masing-masing orang punya caranya sendiri. Tapi sadarkah kita bahwa
kerusakan terbesar seringkali bukan lewat tindakan-tindakan kekerasan
yang ekstrim tapi justru lewat organ kecil bagian tubuh kita yaitu
lidah. Dan yang lebih parah, awal persoalan seringkali bukan hal yang
berat, tapi lewat gesekan-gesekan kecil yang seharusnya mudah diredakan.
Bagaikan nyala api yang mulainya kecil, itu bisa cepat dipadamkan.
Tetapi ketika api didiamkan maka ia akan terus membesar dan membakar
lebih banyak lagi. Ketika api sudah sedemikian besar, maka api bisa
menghancurkan dan menimbulkan kerusakan yang tidak sedikit. Bukan saja
bagi satu orang tapi bisa menyangkut sebuah bangsa bahkan eksesnya bisa
panjang hingga menembus batas-batas wilayah.
Alkitab mengingatkan dengan jelas mengenai potensi bahaya yang bisa
ditimbulkan oleh lidah yang ukurannya relatif kecil dibanding tubuh kita
dan menariknya menghubungkannya dengan api yang membakar. Yakobus
mengatakan: "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari
tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah,
betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5).
Ini adalah sebuah analogi yang sungguh tepat, karena efek atau dampak
kerusakan yang ditimbulkan bisa sama parahnya seperti kebakaran besar.
Sepercik api itu sangatlah kecil dan sama sekali tidak kita anggap
berbahaya. Jika anda nyalakan korek, api itu sama sekali tidak akan
membahayakan. Tapi apa jadinya jika kita mulai mendekatkan itu kepada
kulit? Atau bagaimana jika api itu kita letakkan membakar sedikit bagian
hutan dan dibiarkan selama beberapa waktu? Dampaknya bisa sangat berat
bahkan fatal. Bisa menghilangkan nyawa orang, kalaupun tidak sampai
nyawa, untuk memperbaikinya bisa membutuhkan tahunan, puluhan tahun,
atau malah tidak akan pernah bisa dikembalikan lagi ke kondisi semula.
Yakobus melanjutkan: "Lidahpun
adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di
antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai
seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri
dinyalakan oleh api neraka.Semua jenis binatang liar, burung-burung,
serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat
dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak
seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas,
yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan." (ay 6-8).
Jika Yakobus menyorot tentang kebuasan lidah, yang begitu sulit
dijinakkan, tak terkuasai dan penuh racun, seperti itulah tepatnya. Kita
sudah terlalu sering melihat kehancuran hubungan antar manusia, antar
suku bangsa bahkan negara yang berasal dari kebuasan lidah yang tak
terkendali ini, sama seperti api yang membakar dan menghancurkan.
Ironisnya, lidah sebenarnya bisa dipakai untuk memuji Tuhan, tapi lidah
yang sama ini pula bisa menjadi senjata penghancur yang lebih dahsyat
dari senjata termuktahir hari ini. "Dengan lidah kita memuji Tuhan,
Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan
menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal
ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." (ay 9-10).
Setiap saat kita berhadapan dengan begitu banyak orang dengan tingkah,
polah dan gayanya sendiri-sendiri, bahkan dikalangan keluarga atau
orang-orang terdekat. Gesekan bisa terjadi kapan saja dan perselisihan
pun bisa timbul. Seperti yang saya sebut tadi, penyebabnya biasanya
bukanlah masalah besar tetapi dimulai dari hal-hal yang kecil atau
sepele, namun kemudian meluas sehingga pada akhirnya sulit untuk
dikendalikan. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk bersabar dan bisa
menahan diri, tidak terbujuk atau terpengaruh oleh emosi sesaat yang
pada akhirnya kita sesali juga tetapi sudah terlanjur menghancurkan
banyak hal. Hubungan keluarga hancur, hubungan pertemanan, hubungan
bertetangga, hubungan antar manusia, dan jika ini yang terjadi, jangan
pernah harapkan lagi ada perdamaian di muka bumi. Iblis akan berusaha
menghancurkan manusia, dan biasanya itu dilakukan dengan menyerang sel
terkecil yaitu keluarga. Dari kehancuran keluarga, semua impian iblis
bisa diwujudkan, dan ketika itu yang terjadi, maka kita sendiri yang
akan menanggung kerugian besar. Tidak ada tempat bagi kebencian apalagi
dendam dalam Kekristenan. Kita selalu diminta untuk mengasihi, mengerti
dan mengaplikasikan bagaimana kasih Tuhan yang tanpa batas itu untuk
diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah orang yang bersalah
itu mau mengakui kesalahannya atau tidak, kita diminta untuk bisa
memberi pengampunan. Firman Tuhan berkata: "Janganlah kamu
menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu
menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan
diampuni." (Lukas 6:37).
Jika itu kita terapkan, maka kita bisa berharap untuk melihat
perdamaian semakin bertumbuh di dunia ini. Sayangnya kita justru sering
memakai hukum sebab akibat sebagai alasan pembenaran atas permusuhan
yang terjadi antara kita dengan orang lain. Kita mengira bahwa dengan
mengeluarkan emosi lewat kata-kata maka kita bisa lebih tenang. Tetapi
yang justru sering terjadi, lidah yang tidak terjaga akan terus membakar
sehingga pada suatu ketika tidak lagi bisa dipadamkan.
Itulah sebabnya firman Tuhan berkata: "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18).
Ini penting karena kita sering lupa bahwa keputusan untuk berdamai atau
bertikai seringkali bukan tergantung dari orang, tetapi justru berasal
dari diri kita sendiri. Mungkin memang orang lain yang memulai, tetapi
bukankah keputusan untuk mengampuni atau tidak itu datangnya dari diri
kita sendiri? Apa yang harus kita jaga adalah memiliki kasih dalam diri
kita, dan ada elemen kecil yang seharusnya kita jaga dan perhatikan
karena sering luput dari perhatian kita, yaitu lidah.
Lidah itu cuma bagian kecil dari keseluruhan tubuh kita. Bandingkan
dengan tubuh kita, lidah tidak ada apa-apanya. tetapi kehancuran yang
bisa ditimbulkan oleh lidah yang tidak terkawal bisa begitu hebat. Bukan
saja menghancurkan diri kita, tetapi bisa berdampak jauh lebih besar
daripada itu. Masa depan orang lain bahkan kelangsungan kehidupan
manusia secara luas bisa berakhir hanya karena lidah yang tidak
terkendali. Sejarah mencatat banyak peristiwa yang mengubah kehidupan
manusia menjadi porak poranda, dimana dibutuhkan puluhan bahkan ratusan
tahun untuk bisa pulih dari kerusakan yang berawal dari lidah. Untuk itu
kita perlu menyerahkan lidah kita ke dalam tangan Tuhan, mengisi hati
kita sebagai sumber kehidupan dengan firman Tuhan dan menghidupi kasih
secara nyata dalam diri kita. Kemampuan manusia tidak akan sanggup
menguasai lidah, tetapi kita bisa belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam
mengendalikannya.
Sebuah pesan yang tidak kalah penting mungkin baik pula untuk diangkat dalam menyikapi kebuasan lidah ini. "Hai
saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah
cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga
lambat untuk marah" (Yakobus 1:20).
Jangan terburu-buru melempar kata-kata, apalagi dalam keadaan yang
gampang tersulut emosi. Jangan sampai emosi sesaat yang terlontar lewat
perkataan itu menjadi sesuatu yang kita sesali kelak, yang bisa jadi
sudah terlambat untuk diperbaiki. Sebuah "amarah manusia tidak mengajarkan kebenaran di hadapan Allah" (ay 20),
karena dampak yang ditimbulkan bisa sangat parah dimana lidah biasanya
menjadi ujung tombak dalam mewakili kemarahan ini. Disamping itu peran
lidah sebagai pintu keluar produk kemarahan juga menunjukkan bahwa meski
kecil, organ tubuh ini benar-benar harus kita jaga baik. Oleh karena
itu, marilah kita waspadai dengan secermat-cermatnya segala sesuatu yang
keluar dari mulut kita. Jangan sampai ada kutuk dalam bentuk apapun
yang keluar dari mulut kita, jangan sampai lidah kita berlaku begitu
bebas berlaku buas dan membunuh masa depan banyak orang. Apa yang baik
adalah mempergunakan lidah untuk memuji dan menyembah Tuhan, dan pakai
pula untuk memberkati sesama. Itulah tujuan utama Tuhan memberi lidah
bagi manusia selain untuk merasa. Tuhan bisa pakai lidah kita untuk
menjadi terang dan garam bagi dunia, maka pergunakanlah itu sesuai
dengan kehendakNya.
Lidah yang tidak terkawal bisa menghancurkan, maka waspadai baik-baik
sumber: http://www.renunganharianonline.com/2013/10/waspadai-lidah.html
