Seorang anak kecil sedang belajar untuk berjalan. Pada awalnya dia merangkak lalu mulai berdiri untuk menggerakkan kaki-kakinya cesara perlahan. Betapa bahagianya ketika dia bisa berjalan dengan kedua kakinya. Tubuhnya masih terhuyung ke kanan atau ke kiri dan dia berusaha untuk mengimbanginya.
Saat tubuhnya akan terjatuh, dengan sigap tangan ayahnya memegangi tubuh mungil itu sehingga tak sampai terjatuh. Lalu saat sang anak mulai belejar untuk berjalan lagi, sang ayah melepaskan pegangan tangannya.
Hal itu terjadi berulang kali sampai sang anak bisa berjalan sendiri. Saat sudah bisa berjalan, sang anak mulai berlari. Ayahnya hanya mengawasi. Ketika anaknya terjatuh dan menangis, ayah menggendong dan mengobati luka-luka itu.
Kita adalah anak Allah. Saat kita belajar “berjalan” di tengah-tengah dunia dan akan terjatuh, tangan Allah siap memegang hidup kita. Dan saat kita mulai “berlari” dalam mengapai semua harapan kita, tidak dipungkiri bila kita akan mengalami kegagalan atau kekecewaan. Di saat itulah Allah akan menggendong dan membalut semua kekecewaan itu dengan kasih-Nya.
Allah akan menjaga kehidupan kita sampai kapanpun bahkan sampai rambut kita telah memutih. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita dan tidak akan pernah melupakan kita. Oleh sebab itu, bersyukurlah karena kita memiliki Allah yang luar biasa.
Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
Yesaya 46:4
sumber: http://www.renunganhariankristen.net/tangan-bapa/
