Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. (Ayub 1:22)
Bacaan Alkitab Setahun:
Yosua 14-16
“Apa
pendapatmu tentang kertas ini?” tanya guru kepada murid-muridnya seraya
memperlihatkan selembar kertas putih berukuran besar dengan lubang
kecil di bagian tengah. Hampir seluruh siswa menjawab mereka melihat
sebuah lubang. Ada sesuatu yang hilang dari kertas itu yang membuatnya
tidak utuh lagi. Namun, seorang murid berpendapat sangat berbeda, “Saya
melihat masih ada cukup ruang yang tersedia dalam kertas ini untuk
digambari!”
Tuhan
mengizinkan Iblis mencobai Ayub. Iblis diperbolehkan mengambil semua
harta benda bahkan anak-anak laki-laki saleh itu. Tetapi, Tuhan tidak
mengizinkan Iblis mengambil seluruh milik Ayub sampai tidak bersisa: Dia
tidak mengizinkan Iblis untuk menyentuh hidup Ayub (ay. 12).
Harta benda dan anak-anak Ayub hilang, tetapi tidak demikian dengan
hidupnya. Iblis masih tidak puas. Ia kembali mendatangi Tuhan. Kali ini
Tuhan mengizinkan Iblis untuk mengambil kesehatan Ayub, tetapi Dia tidak
mengizinkannya mencabut nyawa Ayub (2:6). Tuhan selalu menyisakan sesuatu dalam hidup Ayub. Dan Ayub pun merespons kehilangan itu dengan sikap yang benar (Ayub 1:22).
Kehilangan
adalah bagian tak terelakkan dalam hidup ini. Pada saat hal itu
terjadi, kita dapat belajar dari Ayub: alih-alih meratapi kehilangan
itu, kita dapat berfokus pada berkat yang masih tersisa. Bahkan
seandainya kita kehilangan nyawa sekalipun, kita tidak akan kehilangan
Tuhan, yang menjadi Bapa kita melalui penebusan Yesus Kristus. Jika
demikian, bukankah selalu ada alasan untuk mengucap syukur?
FOKUSKAN PANDANGAN PADA BERKAT YANG MASIH ADA,
BUKAN PADA APA YANG SUDAH HILANG
sumber: http://www.renunganharian.net/2014/48-maret/972-yang-masih-tersisa.html
BUKAN PADA APA YANG SUDAH HILANG
