Sistem bisnis modern mengajarkan bahwa orang yang bisa berkembang adalah orang yang berani berspekulasi (bertindak berdasarkan prinsip untung-untungan). Dalam berspekulasi, faktor yang paling menentukan adalah firasat serta perasaan. Sayangnya, firasat serta perasaan ini tidak selalu benar. Oleh karena itu, sangatlah berbahaya bila tindakan iman didasarkan pada spekulasi.
Dalam bacaan Alkitab hari ini, berita tentang keberhasilan bangsa Israel menaklukkan kota Yerikho dan kota Ai telah membuat penduduk Tanah Kanaan—termasuk penduduk negeri Gibeon—merasa ketakutan. Mereka sadar bahwa bangsa Israel akan terus bergerak menaklukkan seluruh Tanah Kanaan. Oleh karena itu, penduduk negeri Gibeon—yang kuatir akan mengalami nasib yang sama seperti penduduk kota Yerikho dan kota Ai—menyusun strategi agar bisa membuat perjanjian dengan bangsa Israel, yaitu dengan mengirim utusan yang datang menyamar seperti orang yang berasal dari tempat jauh (9:3-13).
Walaupun para pemimpin Israel sebenarnya curiga terhadap para utusan tersebut (9:7), sangat disayangkan bahwa mereka akhirnya berhasil dikelabuhi oleh para utusan tersebut karena mereka tidak meminta petunjuk TUHAN(9:14), padahal Musa telah memperingatkan bangsa Israel agar tidak membuat perjanjian dengan bangsa-bangsa yang tinggal di Tanah Kanaan (Ulangan 7:1-2). Kegagalan untuk menaati peringatan TUHAN ini merupakan peristiwa paling memalukan dalam sejarah kehidupan Yosua. Seharusnya rasa curiga para pemimpin Israel itu tidak boleh dipandang enteng, melainkan mereka harus menyelidiki dengan teliti dan meminta petunjuk TUHAN sebelum membuat keputusan. Tindakan para pemimpin Israel yang membuat perjanjian berdasarkan spekulasi itu telah membuat bangsa Israel berdosa kepada TUHAN.
Yosua 9:14
“Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN.”
sumber: http://saatteduh.wordpress.com/2013/09/09/berspekulasi-dengan-dosa/
“Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN.”
