Yefta adalah seorang hakim yang unik (amat berbeda dengan yang lain). Masa kecil Yefta yang dianaktirikan dalam keluarga membuat dia bergaul dengan orang-orang yang hidupnya kacau (para petualang), bahkan dia menjadi pemimpin perampok. Yefta hidup pada saat bangsa Israel—yang telah meninggalkan Allah serta beribadah kepada allah-allah lain—ditindas oleh bani Amon. Saat berada dalam kondisi tertindas, bangsa Israel sepakat untuk meminta Yefta—seorang yang gagah perkasa, namun merupakan anak seorang pelacur—untuk memimpin mereka melawan bani Amon.
Walaupun masa kecilnya buruk dan hidupnya kacau, Yefta beriman kepada TUHAN. Saat dia diminta untuk menjadi pemimpin, dia justru mengajak bangsa Israel untuk datang kepada TUHAN di Mizpa. Sayangnya, ketika memohon penyertaan TUHAN, Yefta berpikir pendek dengan bernazar (berjanji kepada TUHAN) bahwa apa yang keluar dari pintu rumahnya akan dipersembahkan kepada TUHAN sebagai korban bakaran. Dia tidak menyangka bahwa yang keluar dari pintu rumahnya adalah putri tunggalnya sendiri. Walaupun Kitab Hakim-hakim tidak menceritakan secara gamblang bagaimana Yefta melaksanakan nazar tersebut, patut disayangkan bahwa Yefta tidak memohon pengampunan TUHAN atas kesembronoannya mengucapkan nazar itu. Memang benar bahwa nazar—khususnya nazar seorang pemimpin pria—harus dilaksanakan (Bilangan 30:2), sehingga setiap pemimpin harus berpikir panjang sebelum mengucapkan sebuah nazar. Sekalipun demikian, kita pun perlu selalu mengingat bahwa Tuhan itu baik dan suka mengampuni(Mazmur 86:5). Bukankah Yefta dapat memohon pengampunan dengan pertimbangan bahwa pengorbanan manusia itu bertentangan dengan kehendak Allah (Imamat 18:21).
Mazmur 86:5
“Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.”
sumber: http://saatteduh.wordpress.com/2013/09/27/hakim-yang-berpikir-pendek/
“Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.”
