Bacaan Alkitab Pagi 24 September 2013: Hakim-hakim 18:14-31
Tuhan
menuntut kita fokus kepada-Nya. Namun hati kita mudah berdalih, “Ah,
ini kan cuma ….” Kita sering abai bahwa berawal dari retakan kecil,
robohlah sokoguru dan bersamanya, robohlah seluruh bangunan.
Orang
Lewi yang hari ini kita ketahui adalah cucunya Musa begitu terikat pada
patung dan peralatan ibadah buatan Mikha yang tidak sejalan dengan
firman Tuhan. Ia juga mengutamakan ketenaran sehingga “gembiralah
hati[nya]” (20)
ketika ditawari posisi yang lebih glamor. Ia mengabaikan keluarga Mikha
yang telah menganggapnya seperti keluarga sendiri ketika ia masih
terlunta-lunta (Hak 17:9-11). Sebagai orang Lewi, ia telah mengabaikan panggilan untuk hidup sebagai wakil Tuhan.
Bilangan 26:43 mencatat
ada 64.400 orang dari suku Dan yang sanggup berperang. Maka, 600 orang
bersenjata dari Dan di kisah ini tampaknya bukanlah seluruh suku,
melainkan hanya satu keluarga besar sehingga mereka hanya memerlukan
satu kota. Dari sikap mereka, kita memiliki gambaran bagaimana orang
Israel hidup pada masa “tanpa raja dan tanpa Tuhan” ini. Masih ada
sisa-sisa pengajaran Musa sehingga mereka masih menghargai posisi suku
Lewi sebagai imam, tetapi mereka tidak peduli bagaimana Tuhan
sesungguhnya ingin disembah di dalam kekudusan-Nya, dengan tata cara
yang dengan jelas telah Ia gariskan melalui Musa. Mereka mencari Tuhan,
tetapi dengan cara mereka sendiri dan bukan mengikuti apa yang Tuhan
firmankan kepada generasi pendahulu mereka.
Kisah
ini kelihatan tidak signifikan karena hanya melibatkan orang-orang
kecil pada masa yang tak jelas pula. Namun kelak kita akan melihat bahwa
orang-orang ini, perilaku ini, dan kota ini menebarkan bayang-bayang
kelam yang panjang ketika Raja Yerobeam memimpin sepuluh suku Israel
memisahkan diri dari Yehuda, membuat lembu emas, dan meletakkannya di
kota Dan ini (1Raj 12:25-29). Ini mengawali satu masa kelam lainnya yang berakhir dengan runtuhnya Kerajaan Israel (2Raj 17:22-23)!
Masih
adakah kompromi dalam hidup Anda? Jika ya, minta pengampunan Tuhan dan
minta Dia kembali bertakhta di hati, selagi ada kesempatan.
sumber: http://saatteduh.wordpress.com/2013/09/24/jangan-kompromi/
