Yosua telah memberikan instruksi secara jelas kepada seluruh bangsa Israel, yaitu bahwa seluruh isi kota Yerikho akan dikhususkan bagi TUHAN untuk dimusnahkan, kecuali barang-barang dari emas, perak, tembaga dan besi yang harus dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN (6:17, 19). Sayangnya, Akhan tergoda hatinya ketika melihat jubah yang indah buatan Sinear, dua ratus syikal perak (Menurut kamus Alkitab LAI, 1 syikal = 11,4 gram), dan sebatang emas yang beratnya lima puluh syikal. Masalah Akhan adalah bahwa ketika dia melihat barang-barang itu, dia membiarkan pikirannya dikuasai oleh keinginan untuk memiliki barang-barang tersebut, sehingga akhirnya dia tidak dapat menguasai diri dan mengambil barang-barang itu, lalu barang-barang itu dia sembunyikan di dalam tanah di dalam kemahnya (7:21). Akhan berpikir bahwa tindakannya aman karena tidak ada orang yang melihat apa yang dia lakukan. Dia tidak pernah berpikir bahwa Allah bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Dia juga pasti tidak pernah menyangka bahwa akibat dari ketidaktaatannya harus ditanggung oleh seluruh bangsa Israel dalam wujud kekalahan melawan penduduk kota Ai yang jumlahnya hanya sedikit.
Ketidaktaatan Akhan nampaknya dilatarbelakangi oleh pandangan yang meremehkan masalah dosa. Dia pasti berpikir bahwa tindakannya menyimpan barang-barang yang seharusnya dikhususkan untuk Tuhan itu adalah tindakan yang tidak merugikan siapa pun, sehingga dia juga tidak menyangka bahwa Tuhan akan murka menyaksikan apa yang dia lakukan. Kisah Akhan ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa masalah dosa itu adalah masalah serius. Ketidaktaatan kepada kehendak Allah merupakan dosa, tidak peduli apakah tindakan ketidaktaatan itu merugikan orang lain atau tidak.
Amsal 15:3
“Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.”
sumber: http://saatteduh.wordpress.com/2013/09/07/keinginan-yang-mencelakakan/
“Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.”
