Dalam Alkitab, berkali-kali Allah mengingatkan bahwa mengingat sejarah pertolongan TUHAN merupakan sesuatu yang penting. Bila kita tidak pernah mengingat sejarah, maka kita akan cenderung untuk hidup ikut-ikutan dengan mengikuti tren. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Allah memerintahkan agar bangsa Israel mengambil dua belas batu dari tengah-tengah sungai Yordan—dari tempat berjejak kaki pada imam yang memikul tabut TUHAN—guna membangun tanda peringatan bagi bangsa Israel. Tujuannya adalah agar perbuatan TUHAN yang memutus aliran air sungai Yordan diingat oleh keturunan suku-suku Israel. Dengan demikian, diharapkan bahwa keturunan dari suku-suku Israel tidak mudah terpengaruh untuk menyembah ilah-ilah lain yang disembah oleh penduduk Tanah Kanaan.
Pada masa kini, pengaruh globalisasi telah membuat banyak orang yang mencintai Indonesia merasa resah terhadap gencarnya budaya asing mempengaruhi negeri ini. Terlihat jelas bahwa di kalangan generasi muda, budaya daerah pada umumnya telah berhasil digeser oleh budaya Barat, dan saat ini juga sedang digeser oleh budaya Korea. Bila para seniman Indonesia sedang berjuang untuk bisa berjuang melawan budaya Barat, orang Kristen seharusnya juga berjuang keras membendung pengaruh kekafiran yang masuk melalui media massa, khususnya melalui internet. Bila kita ingin membendung pengaruh kekafiran, tidak ada jalan lain selain kita harus terus-menerus berusaha untuk memperdalam penghayatan iman kita, termasuk melalui pemakaian simbol-simbol kristiani yang menghiasi rumah kita.
Yosua 4:5b-6a
“Menyeberanglah di depan tabut TUHAN, Allahmu, ke tengah-tengah sungai Yordan, dan angkatlah masing-masing sebuah batu ke atas bahumu, menurut bilangan suku orang Israel, supaya ini menjadi tanda di tengah-tengah kamu.”
sumber: http://saatteduh.wordpress.com/2013/09/04/mengingat-sejarah/
“Menyeberanglah di depan tabut TUHAN, Allahmu, ke tengah-tengah sungai Yordan, dan angkatlah masing-masing sebuah batu ke atas bahumu, menurut bilangan suku orang Israel, supaya ini menjadi tanda di tengah-tengah kamu.”
