Ayat bacaan: Keluaran 18:18
=======================
"Engkau
akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau
ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau
melakukannya seorang diri saja."
Andaikan
sehari bukan 24 jam tapi 30 jam..." demikian kata seorang teman yang
sedang kesulitan dalam memenuhi tugas-tugasnya. Ia merasa bahwa jumlah
jam sehari belum cukup baginya untuk bisa menyelesaikan tanggungjawabnya
sesuai tenggat yang ditetapkan. Rentang waktu perhari sama bagi semua
orang, yaitu 24 jam dengan kecepatan berjalan yang sama pula. Sementara
teman saya dan banyak orang yang senasib mengeluhkan kurangnya waktu
yang bisa dipakai untuk menuntaskan pekerjaan, pada kenyataannya ada
orang-orang yang ternyata bisa sukses memimpin beberapa tugas, beberapa
perusahaan sekaligus atau berdiri di atas beberapa profesi, sembari
sukses pula membina rumah tangganya. Bagaimana rahasianya mereka sanggup
melakukan itu? Bukankah waktunya sama bagi setiap orang? Ketika
sebagian orang kalang kabut dan kelabakan dalam menyelesaikan
tugas-tugasnya, sebagian lainnya masih bisa tersenyum bahagia dengan
waktu yang masih cukup untuk dibagikan bersama keluarga, berolahraga dan
beristirahat, meski tanggung jawab yang mereka jalani jauh lebih banyak
dan besar. Dari bincang-bincang saya dengan seorang tokoh sukses yang
berdiri di dunia bisnis dan pemerintahan, kuncinya terletak pada
kemampuan kita dalam manajemen waktu. Orang-orang yang sukses menjalani
beberapa profesi sekaligus dan disamping itu malah masih sanggup
melayani pun rata-rata memberikan kunci yang sama. Kemampuan manajerial
waktu tidaklah kalah pentingnya dibanding memanajemen perusahaan atau
orang dalam pekerjaan kita sehari-hari. Ada banyak cara yang bisa
dilakukan dan caranya tentu bisa berbeda-beda dalam setiap kasus,
tergantung kebutuhan, kapabilitas atau kemampuan masing-masing.
Salah satu kesalahan yang paling sering kita lakukan adalah
kecenderungan ingin menyelesaikan semuanya sendirian. Dengan alasan
perfeksionis, kita sulit percaya terhadap hasil kerja atau performa
orang lain, mengira bahwa itu tidak akan sebaik kalau kita sendiri yang
turun tangan. Jika itu yang kita lakukan, maka jelas 24 jam tidak cukup.
Bahkan 48 jam pun masih akan dikeluhkan. Ada banyak orang yang tidak
memikirkan keseimbangan dalam menjalani hari, hanya mementingkan satu
hal lalu mengabaikan yang lainnya. Keluarga tidak lagi diperhatikan,
anak-anak dianggap mengganggu pekerjaan, pulang ke rumah sudah terlalu
capai sehingga apapun yang dilihat di rumah hanya akan membuat emosi
saja. Tidak heran ada banyak anak-anak bermasalah akibat kurang
perhatian karena ayah dan ibunya yang terlalu sibuk bekerja. Keluarga
menjadi berantakan, jauh dari Tuhan, dan pada suatu ketika nanti situasi
sudah sulit untuk diperbaiki. Sebagai seorang pria, saya sampai pada
kesimpulan bahwa jika ingin menjadi pria hebat, itu bukan tergantung
dari seberapa banyak atau besar pekerjaan yang bisa diselesaikan
perhari, tetapi ternyata tergantung dari keseimbangan. Being a great man is all about finding a perfect balance.
Menjalani profesi dengan baik, memberi waktu yang cukup bagi keluarga,
menjaga kebugaran dan kesehatan dengan berolah raga secara teratur,
beristirahat dalam jumlah yang cukup, melayani Tuhan sesuai panggilan
masing-masing. Intinya, mencapai performance yang baik dalam bekerja,
sebagai kepala rumah tangga, sebagai imam, sebagai suami dan ayah serta
sebagai pekerja-pekerjaNya. Jika keseimbangan antar masing-masing elemen
bisa dicapai, itulah yang akan bisa membuat anda berbeda dari yang
lain.
Mari
kita kembali kepada kerelaan untuk belajar percaya kepada orang lain dan
berhenti menganggap bahwa hanya kita yang sanggup melakukan yang
terbaik dalam sebuah bidang pekerjaan. Ada sebuah cara yang bisa menjadi
solusi untuk bisa mencapai keseimbangan, yaitu mendelekasikan
bagian-bagian tertentu kepada orang lain. Mendelegasikan merupakan salah
satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengoptimalkan penggunaan waktu.
Selain itu bisa membuat kita belajar percaya kepada orang lain, itu pun
akan menggali potensi-potensi orang lain sehingga mereka pun bisa
bertumbuh dan mengalami peningkatan. Melanjutkan renungan kemarin, mari
kita lihat kembali kisah ketika Musa mendapat kunjungan dari mertuanya
bernama Yitro, seorang imam di Midian.
Musa dipilih Allah secara langsung untuk sebuah tugas besar yang sangat
berat. Membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan ditunjuk
untuk menuntun mereka mencapai tanah terjanji. Itu tugas yang amat
sangat berat, dan hampir-hampir mustahil untuk dikerjakan mengingat
sifat dan sikap orang Israel yang ahli dalam hal menggerutu,
bersungut-sungut dan membuat masalah. Dalam proses itu Musa menjadi
penyambung lidah Tuhan untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada
bangsa yang ia pimpin. Sudah memimpin, ia pun harus menjadi hakim yang
mengadili setiap pertikaian yang terjadi disana antar orang perorang.
Mengingat job desk yang berat itu, agaknya Musa terlalu fokus kepada
penunjukan Tuhan atas dirinya, sehingga ia langsung terjun mengurus
segalanya sendirian dan saking sibuknya, tampaknya ia tidak terpikir
untuk mendelegasikan atau menyusun struktur kepengurusan agar bisa lebih
efektif. Ia menyelesaikan semuanya sendirian, all by himself. "Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang." (Keluaran 18:13).
Musa bertindak sendirian menjadi hakim mengatasi perselisihan yang
terjadi di antara sesama orang Israel yang memang gemar berseteru dan
doyan ribut. Berapa jumlah orang Israel waktu itu, dan berapa kali
sehari mereka berselisih satu dengan yang lain? Dalam ayat tersebut kita
membaca bahwa Musa seharian duduk mengadili berbagai masalah yang
dialami bangsa Israel yang tidak ada habisnya. Yitro merasa prihatin
melihat menantunya dan tahu bahwa apa yang dilakukan Musa itu sangat
tidak efektif. "Melayani Tuhan itu baik, tapi, hey, bukan begitu caranya.." itu tentu ada dalam benaknya. Maka dia pun menanyakan kepada Musa: "Apakah
ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri
saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi
sampai petang?" (ay 14).
Musa pun menyatakan bahwa sebagai yang ditunjuk Tuhan, ia harus
memberitahukan ketetapan dan keputusan Allah kepada masing-masing orang.
Dan Yitro merasa kasihan melihat menantunya harus bekerja sendirian
menghadapi segalanya. "Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau
baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat
bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja." (ay 18).
Yitro mengatakan bahwa bekerja sendirian seperti itu dalam mengelola
masalah bangsa Israel yang begitu banyak adalah tidak baik. (ay 17).
Lalu Yitro pun memberi masukan kepada Musa, memberi usulan agar Musa
bisa memakai strategi yang lebih baik, menyusun struktur kepemimpinan
yang akan bisa membantu Musa dalam menyelesaikan setiap permasalahan
secara lebih cepat, efektif dan efisien. "Di samping itu kaucarilah
dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah,
orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap;
tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang,
pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh
orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka
segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi
segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka
meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut
menanggungnya." (ay 21-22).
Sungguh menarik melihat usulan Yitro agar Musa membentuk
kelompok-kelompok yang bertingkat dengan pemimpin masing-masing. Ini
akan jauh lebih mempermudah Musa dalam menjalankan perintah Tuhan. Ini
gambaran struktur kepemimpinan terawal yang dicatat dalam Alkitab.
Untunglah Musa hidup sebagai pribadi yang rendah hati dan mau menerima
masukan. Ia tidak menolak dan mendengarkan nasihat mertuanya. "Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya." (ay 24).
Yitro pun sempat melihat langsung bagaimana menantunya memperbaiki
sistem pelayanannya dengan melibatkan orang-orang yang cakap sebagai
rekan sekerja sebelum ia pulang kembali ke negerinya. (ay 27).
Dalam doa Musa yang dicatat dalam Mazmur, Musa meminta Tuhan memberi hikmat kepadanya untuk mampu menghitung hari-hari. "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12).
Musa menyadari pentingnya meminta hikmat agar ia bisa membagi dan
memanfaatkan waktu se-efektif dan se-efisien mungkin, dan kita pun bisa
melakukan hal yang sama. Yang penting adalah menyadari terlebih dahulu
bahwa kita tidak akan sanggup mengerjakan semuanya sendirian. Nobody
can. Kita perlu memliki hikmat agar bisa memakai waktu secara optimal.
Itu tidak mudah, tetapi itu harus kita lakukan agar hasil yang diperoleh
bisa lebih baik lagi. Kemampuan memanajemen waktu akan sangat berkaitan
erat dengan kemampuan kita mendelegasikan tugas-tugas kepada
orang-orang cakap yang tepat. Kita tidak akan bisa menyelesaikan
semuanya sendirian, dan disaat yang sama meluangkan waktu yang cukup
untuk keluarga dan untuk melayani Tuhan. Delegasikan sejauh mana yang
bisa anda lakukan. Tanpa itu kita tidak akan bisa mengalami peningkatan.
Waktu terbatas, tapi bukan berarti tidak cukup. Kita terbatas, tetapi
bukan berarti kita tidak bisa berhasil secara luar biasa. Bersama Tuhan,
milikilah hikmat untuk bisa menyusun jadwal perencanaan yang baik,
sehingga anda tidak perlu lagi mengeluhkan jumlah jam dalam sehari.
Kemampuan
mendelegasikan dengan menempatkan orang-orang yang cakap dan tepat
dalam struktur yang baik merupakan salah satu strategi terbaik dalam
manajemen waktu
sumber: http://www.renunganharianonline.com/2013/10/belajar-mendelegasikan-lewat-yitro-dan.html
