Bila suatu bangsa tidak menjadikan Allah sebagai pemimpin, maka kehidupan bangsa itu akan kacau balau. Banyak hal mengerikan yang bisa terjadi bila kehidupan menjadi tidak terkendali. Tanpa iman yang kuat, pengaruh kekafiran akan sulit terbendung.
Orang Lewi yang dikisahkan dalam bacaan Alkitab hari ini mengira bahwa menginap di kota Gibea—yang dikuasai oleh orang Israel—lebih aman daripada menginap di kota yang dikuasai oleh orang Yebus. Akan tetapi, ternyata bahwa pandangan tersebut salah. Banyak hal menyedihkan yang terjadi akibat keputusan yang salah ini:
Pertama, orang-orang jahat di kota Gibea mempraktikkan homoseksualitas (19:22, perkataan “kami pakai” adalah ungkapan yang menunjuk kepada hubungan seks).
Kedua, pandangan yang rendah terhadap wanita. Si pemilik rumah menawarkan anaknya sendiri dan gundik orang Lewi itu untuk diperkosa sebagai ganti si orang Lewi (19:24).
Ketiga, untuk mengamankan dirinya sendiri, si orang Lewi menyerahkan gundiknya sebagai tameng agar dirinya tak diganggu oleh penduduk Gibea.
Keempat, si orang Lewi memutilasi (memotong-motong) gundiknya sendiri (yang mati karena diperkosa beramai-ramai) menjadi dua belas potong, lalu mengirimkan potongan-potongan tubuh itu ke seluruh suku di Israel untuk membuat seluruh bangsa Israel menjadi panas hati terhadap penduduk kota Gibeon.
Sementara Allah menghukum penduduk Tanah Kanaan karena dosa mereka telah mencapai puncak, patut disayangkan bahwa perilaku bangsa Israel ternyata tidak lebih baik daripada perilaku penduduk Tanah Kanaan yang tidak mengenal Allah.
Roma 3:9-10
Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.”
sumber: http://saatteduh.wordpress.com/2013/10/02/bila-allah-bukan-pemimpin/
Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.”
