Di satu pihak, perkembangan teknologi informasi berupa gadget super canggih perlu disyukuri, sebab masyarakat bisa mendapat infomasi dalam waktu yang relatif singkat. Di lain pihak, perkembangan tersebut menghasilkan ekses negatif, misalnya kemudahan mengakses pornografi oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Dengan gadget yang kecil—misalnya handphone yang bisa dipakai untuk mengakses internet—setiap orang dengan mudah bisa melihat situs-situs porno. Sangat mencengangkan bahwa pornografi telah menjadi bisnis raksasa dan industri terbesar yang diakses di jam kerja dengan konsumen berusia produktif. Tak ayal lagi, godaan seksual di tempat kerja sering terjadi. Survei The Janus Report on Sexual Behavior di New York menyebutkan bahwa sedikitnya 58% pria yang berkantor di pusat bisnis mengakui mengalami godaan seksual di jam kerja. Yang lebih mencengangkan, survei Yahoo dan Forbes pada tahun 2008 mengungkapkan bahwa di seluruh dunia, setiap detik dibelanjakan 3.075, 64 dollar AS untuk pornografi dan 28.258 pengguna internet— umumnya berusia 35-49 tahun —melihat situs porno; 20% akses pornografi dilakukan saat bekerja.
Pornografi merupakan tantangan bagi orang Kristen, terutama di tempat kerja. Apakah Anda mempertahankan nilai kekudusan atau ikut berkompromi dengan dosa seksual dengan mengakses dan melihat situs porno? Firman Tuhan menegaskan kepada kita, “Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Tuhan” (7:1). Jauhilah Pornografi!
2 Korintus 7:1
“Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Tuhan”.
sumber: http://saatteduh.wordpress.com/2013/10/17/jauhi-pornografi/
“Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Tuhan”.
